Martabat Politik
Majunya dan terlibatnya dalam kepengurusan ataupun pencalonan partai bukan hanya persoalan menang atau kalah melainkan adalah prosesnya.
Sebagai organisasi kepartaian politik. Partai bukan partai proto yang bersifat faksional dan feodal, ia juga berfungsi sebagai saluran masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan publik. Indikasi parpol kekinian adalah adanya kongruensi antara platform partai politik dengan kebijakan publik.
Terlepas dari menang kalah dalam pemilu, sebuah parpol modern tetap berfungsi sebagai representasi dari aspirasi masyarakat.
Di dalam sistem demokrasi, partai politik merupakan instrumen yang wajib ada di dalam sebuah negara. Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa tidak ada demokrasi ketika tidak ada partai politik didalamnya, karena partai politiklah yang memainkan peranan penting dalam sistem demokrasi. Dengan kehadiran partai politik telah mengubah hubungan antara rakyat dengan penguasa, yaitu dari yang semula mengenyampingkan peran rakyat menjadi rakyat sebagai aktor dan poros penting dari hubungan itu. Terkait peranan partai politik hadir dalam memperjuangkan aspirasidan kepentingan rakyat, nilai-nilai (ideologi) menjadi landasan penting dan arahgerak partai dalam memperjuangkan tujuan dan cita-cita politik partai.
Berkaitan dengan peranan partai politik dalam sistem demokrasi, kedudukan ideologi pada hakikatnya memiliki posisi yang sangat penting dalam menjelaskan basis perjuangan partai-partai politik, karena kita tidak dapat memahami cara berpikir, bersikap, dan bertindak tanpa memahai struktur ideologi politik yang membangunnya. Hal ini menjelaskan bahwa keberadaan ideologi sangatlah penting di dalam partai politik. Karena ideologilah yang mencerminkan identitas dari partai-partai politik dan ideologi pula yang menjadi instrument partai politik dalam mewujudkan tatanan masyarakat ideal yang ingin dicapai, sebagai dari pencapaian tujuan politik dari partai politik.
Nah, jika ada politisi partai politik yang mengkaitkan dikotomi partai dengan politiksasi agama, Ras dan Sara dalam setiap pernyataan dan perilakunya, itu sama saja dengan membunuhan nalar sehat dan rasionalitas politik akal sehat seorang politisi tersebut. Idealnya, seorang politisi dalam berpolitik yang sehat lebih mengutamakan berkompetisi dengan mengadu gagasan, bukan lagi mempertentangkan dikotomi agama , ras ataupun sara. Terlebih lagi, bila mempertentangkan agama dan merekduksinya masuk kedalam ranah politik akan menyebabkan keadaban politik tidak lagi menjadi cita-cita bersama.
Disatu sisi, masyarakat perlu mengedepankan akal sehat dalam mengatasi isu ini. Kita harus dapat mengelola kemajemukan, bukan justru menjadikannya sumber masalah. Penggunaan dikotomi partai dengan politiksasi agama menuju kontestasi pemilu yang sering dilontarkan hanya akan menunjukkan ketidakrasionalan politisi tersebut. Masyarakat Indonesia sudah cukup cerdas untuk membedakan mana politisi yang memiliki cara berpikir rasional dan mana yang irasional. Sering kali, kemunduran politik akal sehat hanya sekedar mencari kegaduhan tetapi subtansi akal sehat tidak lagi dijadikan acuan berpikir.
Oleh sebab itu, jika ada politisi yang melakukan pertarungan ide dan gagasan dan hanya berkutat pada politik irasional maka akan ditinggalkan masyarakat. Saat ini, ruang demokrasi membutuhkan politikus yang tidak menjadi benalu negara. Bagi politikus yang menjadi benalu negara demokrasi akan kehilangan akal sehat dan martabat demokrasi. Seharusnya, politikus memiliki keteladan dan jiwa sebagai negarawan bukan politikus hanya sekedar memperkeruh suasana. Akibatnya politik kehilangan martabat demokrasi dalam memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Semoga tulisan ini bermanfaat salam hormat @andiepangerantandilangi

platform partai politik dengan kebijakan publik.
BalasHapusMantap